Tuhan Siapakah “Yang Benar” ?

Oct 12th, 2009 | By | Category: Artikel | Viewed 265 views

Tulisan ini terinspirasi dari memori saya ketika berdiskusi dengan sepupu saya yang kebetulan baru kuliah di UIN Jakarta di jurusan yang sama sewaktu saya kuliah dulu, Tafsir Hadis. Rupanya ia baru mendapatkan mata kuliah filsafat dan merasa tergelitik tentang pemikiran dosennya. Awalnya diskusi ini dimulai dari pertanyaannya tentang “Benarkah manusia akan bertemu dengan Munkar Nakir di alam kubur nanti dan selanjutnya bertemu Tuhan?” Mungkin juga pertanyaan itu muncul karena diskusi kami terjadi persis setelah tahlil 40 harinya Mbah M. Harun.

Dalam diskusi itu, sebelum merambah pada pertanyaan di atas, saya “kerucutkan” topiknya tentang “Tuhan” dengan pertanyaan dasar apakah perbedaan antara “Tuhan dalam agama Islam, Kristen dan Yahudi”. Jika berbeda, manakah konsep yang benar. Atau dengan sedikit naif, kami coba menentukan manakah yang terbaik? Dan kami mencoba mendiskusikan hal tersebut dengan pemikiran terbuka. Dengan membebaskan diri dari segala prakonsepsi kami tentang Tuhan (jika dimungkinkan).

Kami coba membahasnya dengan ditemani segelas jus apel yang nikmat dan sepiring kacang garing. Diskusi ini berlangsung seru hingga tanpa kami sadari berlangsung hingga 2 jam lebih.

Hanya saja di akhirnya diskusi kami dengan berat hati harus mengakui bahwa “pertanyaan di atas sulit untuk dijawab”. Ternyata segala konsepsi keTuhanan yang diusung oleh masing-masing agama yang kami pada akhirnya menderivasi hal-hal yang baik.

Dan kami menyadari bahwa kesepakatan tentang “Tuhan yang paling benar”, hanya bisa tercapai jika kami mengawali dari prakonsepsi yang sama. Namun hal itu dipastikan tidak lepas dari keyakinan agama kami.

Namun pertanyaan di atas tetap menjadi perenungan saya selanjutnya. Manakah Tuhan yang benar? Dan apakah agama yang saya anut adalah jalan kebenaran karena telah meyakini Tuhan yang benar?

Pertanyaan ini lazim dipertanyakan orang-orang yang sedang mengalami krisis kepercayaan. Namun saya tidak demikian. Saya memiliki keyakinan mendalam terhadap Tuhan. Oleh sebab itu saya mencoba “memahami” Tuhan dari sudut pandang yang berbeda. Dengan mencari jawaban melalui kedalaman diri saya sendiri dengan melibatkan pengalaman keseharian.

Saya menyadari bahwa banyak orang yang mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan, yang sering disebut pengalaman spiritual. Apakah itu melalui mujizat atau dalam pengalaman pahit? Banyak orang yang berani mengatakan, “Tuhan telah menenangkan jiwaku”, meskipun ia tengah menghadapi penderitaan. Anehnya, pandangan mereka tentang Tuhan, meskipun berbeda keyakinan dengan saya, seolah tidak bertentangan dengan pemahaman tentang KeTuhanan. Ada titik universal pada “Tuhan yang dialami”.

Ada perbedaan antara memahami Tuhan secara teologis dengan mengalami hadiratNya secara spiritual. Hal ini coba saya tarik kepada pengalaman saya sendiri. Dalam pengalaman keseharian Tuhan saya alami secara berbeda. Tuhan saya alami dalam bentuk sebuah kedekatan.

Saya mengenalnya namun pada saat bersamaan tidak terpahami. Jika ditanyakan seperti apa Tuhan itu? Saya tidak mengenalNya sebagaimana saya mengenal pribadi seseorang. Saya tidak tahu bagaimana wujudnya, tubuhnya dan raut wajahnya. Saya mengenalNya melalui ungkapan sederhana, “Dia ada”.
Namun saya mengenalnya karena secara intim saya dapat merasakan kehadiranNya setiap waktu kehidupanku. Dia ada ketika saya bernafas, bermain, bekerja, berlibur, berkumpul beserta keluarga, dsb. Ia ada setiap saat.

Apakah ini kemudian saya berkesimpulan bahwa pemahaman tentang Tuhan sebagaimana yang diajarkan agama tidak tepat?

Tapi, kata “pemahaman” menjadi kritik terhadap konsepsi teologis tentang Tuhan. Aktivitas memahami akan selalu berkaitan dengan kesadaran. Dan apa yang hadir dalam kesadaran membutuhkan prasyarat untuk mencapai taraf pemahaman.

Pertama, setiap fenomena yang terpahami harus memiliki batasan. Apakah itu dalam ruang, batas eksistensi yang bisa dibedakan dengan fenomena lainnya. Saya mengatakan “memahami keberadaan sebuah meja karena saya bisa mengindentifikasi batas-batas meja dalam ruang dan keberadaannya dengan wujud lainnya”.

Kedua, setiap fenomena yang disadari terikat dalam waktu. Bahwa ia eksis menempati suatu eksistensi pada suatu titik waktu. Dan mustahil menjadi eksistensi yang lain pada waktu yang berbeda.

Jadi apakah keberadaan Tuhan memenuhi persyaratan tersebut sehingga Ia bisa dipahami. Atau apakah mustahil bagi Tuhan berada dalam jutaan eksisten dalam suatu titik waktu tertentu.

Jadi jika demikian apakah fungsi teologi itu sebenarnya? adalah bentuk pewartaan Tuhan yang dialami melalui bahasa yang memiliki sejumlah keterbatasan yang diawali ketika sebuah fenomena masuk dalam kesadaran. Setidaknya bahasa diturunkan dari sesuatu yang terlebih dahulu dialami. Kita menyebutkan merah, sakit, kuda, tanaman karena hal-hal tersebut telebih dahulu hadir dalam kesadaran kita. Bersumber dari sesuatu yang berasal dari luar maupun dalam diri kita.

Sehingga wajar jika Tuhan dalam konsepsi teologis seringkali terjerumus dalam wujud dan citra manusia (antromorfisme). Tuhan digambarkan memiliki karakter manusia, pemaaf, sayang, cinta kasih, dan seterusnya. Namun, bagaimana caranya kita mengambarkan sosok Tuhan yang memiliki kualitas yang melampaui batas-batas pengalaman kita.

Oleh sebab itu dalam pemahaman saya, teologi bersumber dari ekspresi personal. Tuhan dirasakan dan kemudian diwartakan. Setidaknya menjadi kerangka awal untuk kita kemudian mengenal Tuhan. Untuk bisa melakukan sesuatu maka kita perlu memiliki sebuah pemahaman terlebih dahulu. Seperti halnya orang yang belajar ekonomi sebelum terjun berbisnis. Namun belakangan apa yang ia ketahui sebelumnya menjadi tidak relevan dengan dijumpai pengalaman-pengalaman yang baru.

Dan bagaimana terhadap kontradiksi dengan berbagai ajaran agama? Menurut hemat saya, kita tidak bisa menilai baik buruknya agama orang lain tanpa kita membebaskan dari pandangan kita. Karena kebenaran agama pada akhirnya akan kembali pada Tuhan sendiri sebagai penentu mana betul dan tidak.

Namun saya meyakini bahwa bisa saja berbagai ajaran agama adalah bentuk kebenaran secara parsial. Penyempurnaannya adalah tergantung pada pribadi untuk mencari Tuhan yang hidup dan bisa ditemukan secara pribadi.
Walaupun demikian, perbedaan ajaran dan teologi dari berbagai agama merupakan gambaran dari ketakterpahaminya Tuhan itu sendiri. Bahwa pemahaman Tuhan memerlukan berbagai paradoks dan kontradiksi yang terlihat irasional untuk membuatNya agung. Ia menjadi Tuhan yang penghukum pada pandangan agama tertentu, di sisi menjadi pengasih. Tuhan berbicara dalam keyakinan tertentu namun di sisi lain ia hilang. Tapi dengan tidak terpahaminya Tuhan maka Tuhan menjadi agung.

Saya memiliki keyakinan bahwa setiap agama bisa membawa manusia kepada Tuhan. Asalnya keimanan tersebut diproyeksikan untuk mencari Tuhan di masa kini. Jika Tuhan ada di masa lalu maka Ia juga ada di masa sekarang dan masa depan. Karena Tuhan bersifat historis (terikat waktu) namun secara paradoks juga bersifat ahistoris (lepas dari ikatan waktu).

Terdapat perbedaan yang nyata antara Tuhan masa lalu dengan Tuhan masa kini. Tuhan masa lalu seolah keberadaannya dapat dipahami. Sayangnya, layaknya prasasti, keberadaan Tuhan di masa lalu seringkali diperdebatkan layaknya mendebatkan sejarah pada pahlawan yang hidup di masa lalu.

Mengapa diperdebatkan? karena tidak ada lagi yang bisa membuktikan kebenaran sejarah tersebut, semua pelaku sejarah sudah tidak ada lagi.
Namun Tuhan masa adalah Tuhan yang diam. Dia mungkin terlihat agung, telah melakukan berbagai keajaiban melalui para nabinya, namua keberadaannya Ia tidak memiliki makna eksistensi kita saat ini. Ia adalah Tuhan yang hadir bagi para nabi dan orang-orang sebelum kita.

Sedangkan Tuhan masa kini, jelas tidak dapat dipahami sedemikian jelas. Namun keberadaannya begitu dekat dan bermakna bagi kehidupanku. KehadiranNya adalah untuk saya melalui interaksi unik yang tidak dapat disamakan dengan perbagai pengalaman pribadi lainnya.

Pengalaman Tuhan di masa kini menghantarkan saya akan Tuhan masa depan. Dimana bersama Tuhan menghadapi masa depan akan memberikan kepastian hidup yang lebih baik. Merubah ketidakpastian menjadi sebuah kepastian.
Perdebatan teologis tentang Tuhan menurut saya adalah pembicaraan Tuhan yang telah mati bersama sejarah. Bahkan jika terlalu larut akan membawa kita pada penyembahan berhala. Yang kita sembah Tuhan anonim yang selaras dengan alam pikiran logika dan imajinasi kita. Bukankah patung dibuat berdasarkan citra Tuhan dalam pikiran manusia. Bagaimana mungkin menjadi tiga sosok? Bagaimana mungkin Tuhan menghukum manusia? dan seterusnya. Aneh juga mengapa kita begitu mudah menentukan apa yang tidak mungkin bagi Tuhan.

Menemukan Tuhan saat ini dialami melalui pencarian. Dimana di sinilah titik tolak universalitas Tuhan. Dimana Tuhan sama-sama tidak terjelaskan namun hadir sebagai sosok yang siap berinteraksi dengan manusia. Ia dialami sebagai pengalaman spiritual, “bertemu pribadi dengan Tuhan. Tuhan yang hadir, Tuhan yang tersalib,  dan pernikahan suci” menjadi ungkapan dari pengalaman ini.

Penjelasan tentang Tuhan melalui pengalaman ini tidak lain adalah “Tuhan itu milik semua orang”. Milik? Ya, milik saya, milik anda, milik dia, milik mereka, dan milik semua yang mengakui adanya Tuhan”. Ungkapan sederhana yang saya kutip dari perkataan seorang kawan. Dan kehadiran Tuhan ini tidak hanya menorehkan makna mendalam bagi sang mempelai/manusia. Namun juga menghidupkan berbagai kesadaran luhur yang inheren dalam diri manusia.

Oleh sebab itu, pembicaraan tentang Tuhan barangkali penting untuk memberikan pemahaman terhadap mereka yang memiliki keyakinan yang berbeda. Juga penting mengingatkan bahwa Tuhan hadir di masa lalu maka juga akan hadir di masa kini. Namun pengenalan akan Tuhan secara pribadi memerlukan pencarian yang tidak pernah selesai. Tidak ada ukuran yang pasti di manakah kita saat ini berada.

Perdebatan tentang konsep Tuhan tidak akan membuat sebuah agama menjadi benar atau tidak. Dan menurut saya sebuah keyakinan agama bisa menjadi agung, tidak melalui kebenaran konsepsi tentang Tuhan. Melainkan dari pancaran cahaya dari dalam diri umatnya yang telah bertemu dengan Tuhan dan mendatangkan kedamaian dan kebaikan.

Wallahu a‘lam bi al-shawwab
mobile spy app
mobile phone spy apps

Baca Juga