Substansi Penciptaan Malaikat dan Iblis

Feb 13th, 2013 | By | Category: Kajian Tafsir | Viewed 3,744 views

karikatur malaikat iblis

Firman Allah SWT. dalam surat Ali Imran ayat 190 – 191:

Ali Imran 190-191

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. Ali Imran: 190 – 191).

Sebuah pertanyaan besar dalam hati saat kita membaca kedua ayat tersebut di atas. Siapa sajakah makhluk-makhluk Allah? Mungkin kita tahu bahwasanya banyak sekali makhluk-makhluk ciptaan Allah selain manusia. Makhluk yang tidak kasat mata seperti jin, malaikat, syaitan, iblis, juga merupakan  makhluk Allah dan itu harus diyakini keberadannya.

Refleksi ini membahas tentang makhluk-makhluk Allah yang tak kasat mata, lebih khusus kepada malaikat, jin, syaitan dan iblis. Siapakah mereka dan diciptakan dari apakah mereka itu? Apa perbedaan yang signifikan dari mereka?

Allah SWT. berfirman dalam Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 34:

Al-Baqarah 34

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir”.  (QS. Al Baqarah: 34).

Dalam konteks ayat tersebut, dapat kita ambil sebuah kesimpulan tentang siapa jin dan siapa malaikat. Jin dan malaikat adalah makhluk yang sama dalam bentuk dan penciptaannya. Yang membedakan dari mereka adalah ketakwaan dan kepatuhan malaikat dibandingkan dengan jin ataupun iblis.

Dapat kita analogikan, mengapa jin dan malaikat dikatakan satu penciptaan. Sama halnya dengan seorang raja atau apapun yang mempunyai bawahan. Yaitu, tatkala seorang pemimpin mengatakan, “Wahai semua bawahanku, patuhlah kalian pada semua perintahku!” Maka, patuhlah semua kecuali iblis. Orang-orang yang diperintahkan untuk patuh itu berartikan satu jenis dan satu penciptaan, namun karena ada yang melanggar maka ia dinamakan iblis.

Maka kami lebih cenderung memahami bahwa syaitan atau iblis adalah sebuah predikat yang melekat pada makhluk-makhluk yang mengekang dan melanggar. Dalam sebuah hikayat pun, sering kita dengar bahwa sebelum iblis dilaknat Allah, ia pernah menjadi guru malaikat yang sebenarnya sangat tidak rasional seandainya iblis bukan satu penciptaan dengan malaikat.

Dalam bahasa Arab, antara kata “Nur” ( نور ) dan “Nar” ( نـار ) maka semua itu adalah sama. Sama dalam tasrifannya, نـار – نـور ونوارا ونيـارا artinya pun sama, yaitu sinar. Sering kita dengar bahwa malaikat terbuat dari cahaya dan iblis dari api. Itu hanyalah sebuah simbol. Cahaya yang dinisbatkan kepada malaikat adalah sebuah simbol kebajikan dan api yang dinisbatkan kepada iblis adalah simbol dari kejahatan.

Dengan adanya refleksi ini, setidaknya dapat memberikan wacana baru yang senantiasa akan menjadikan kita makhluk yang أولى الألبـاب . Harapan kami sebagai penulis adalah bahwa apa yang tertuang dalam buah pena ini kiranya dapat memberi manfaat bagi diri pribadi khususnya dan pembaca umumnya. Dan itu semua semoga dapat memberika harapan kepada the readers agar kita dapat terhindar dari kesyirikan yang memang sedang banyak terjadi saat ini dikarenakan takutnya manusia kepada jin, syaitan dan iblis, bukan kepada Allah Sang Penguasa alam. Goresan pena diatas jelas mendeskripsikan bahwasanya Malaikat, Jin dan Iblis hanyalah bahasa metafor yang harus dipahami secara metaforis atau simbolik pula. Inilah probabilitas — kalau tidak disebut dengan penafsiran — yang dipahami oleh penulis. Dan pemaknaan semacam ini (menurut penulis) lebih rasionalis dan argumentatif ketimbang dipahami secara tekstualis yang cenderung rigid dan absrud.

Wallahu a’lam bi al shawwab.

Baca Juga

Tags: , ,