Sejarah

Awal perjalanan Yayasan Al-Ghoffaar Cikaso dimulai pada tahun 1966, saat beberapa orang  anak datang belajar mengaji Al-Qur’an dan ilmu-ilmu agama Islam kepada KH. Moh. Hasan Mugni, seorang ulama lokal yang masih memiliki garis silsilah dengan Eyang Hasan Maolani atau yang lebih dikenal dengan sebutan ‘Eyang Menado’. KH. Moh. Hasan Mugni dikenal sebagai seorang yang memilki semangat yang besar dalam mempelajari ilmu-ilmu agama. Selain mendapat bimbingan dari sang Ayah, KH. Abdul Kapi, ia juga memperdalam ilmu agama dengan “mondok” di beberapa pesantren di antaranya di Pesantren Babakan-Ciwaringin (Cirebon), Cidewa-Ciamis (sekarang Pondok Pesantren Darussalam Ciamis) serta Pesantren Raudlatut Thalibin (Kuningan).

Pada mulanya, kegiatan belajar mengajar ini dilakukan di rumahnya yang masih berbentuk gubuk kecil. Seiring dengan terus bertambahnya para santri, proses belajar mengajar tidak dapat dilakukan lagi di dalam rumah tersebut hingga seorang warga mewakafkan sebagian tanahnya untuk dipergunakan sebagai tempat belajar para santri guna membangun sebuah ‘tajug’ (langgar/musholla) yang diberi nama Al-Ghoffaar pada pertengahan tahun 1969.

Sepeninggal KH. Moh. Hasan Mugni, sekitar tahun 1978, para ahli waris yang meneruskan perjuangan dakwah beliau mengganti istilah ‘tajug’ menjadi Pondok Pesantren Al-Ghoffaar. Meskipun fisik dan fungsi bangunan tidak berubah, tetapi perubahan nama tersebut membawa dampak positif terutama dalam hal kualitas pembelajaran serta jenis kajian yang kian beraneka ragam. Santri tidak hanya belajar ilmu-ilmu agama seperti ilmu fiqih, tauhid, akhlak dan tata bahasa Arab, akan tetapi juga dibekali dengan keterampilan lain seperti bahasa Inggris, ilmu retorika dan keterampilan pendukung lainnya.

Seiring dengan  perubahan tersebut, jumlah santri juga terus mengalami peningkatan. Santri yang belajar tidak hanya berasal dari lingkungan Pondok Pesantren saja melainkan dari berbagai penjuru Desa Cikaso serta desa-desa di sekitarnya. Dengan semakin meluasnya penyebaran santri tersebut, maka pengaruh Pondok Pesantren Al-Ghoffaar pun semakin besar. Terlebih lagi, tidak sedikit para santri yang telah selesai menjalani masa belajar, mereka mengembangkan dakwah di tempatnya masing-masing. Tidak heran jika banyak lembaga-lembaga pendidikan serta kegiatan keagamaan di Desa Cikaso dan desa-desa sekitarnya yang pendiri, pengurus dan pengajarnya merupakan alumni Pondok Pesantren Al-Ghoffaar. Dengan demikian, tidak berlebihan jika Pondok Pesantren Al-Ghoffaar disebut sebagai salah satu agent of change (pelopor perubahan) yang memiliki pengaruh yang relatif besar dalam aktifitas dakwah sekaligus menjadi cikal bakal lahirnya lembaga-lembaga keagamaan yang kini eksis di lingkungan Desa Cikaso dan sekitarnya .

Pesatnya perkembangan yang ditunjukkan oleh Pondok Pesantren Al-Ghoffaar membuat para ahli waris berinisiatif untuk mendirikan Yayasan Al-Ghoffaar Cikaso pada tanggal 11 Agustus 2008 sebagai badan hukum yang menaungi operasional lembaga-lembaga tersebut di atas. Pendirian yayasan tersebut merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas baik secara akademik maupun pengabdian kepada khalayak sosial. Selain meningkatkan konsistensi dan profesionalitas dalam pengembangan belajar mengajar, tindakan nyata yang dilakukan oleh Yayasan Al-Ghoffaar Cikaso saat ini adalah melakukan pembangunan sarana belajar para santri di atas tanah wakaf seluas 900 m2 yang dimulai pada 1 Muharram 1434 H (15 November 2012).