Perbanyak Sholawat di Bulan Maulid: Tafsir QS. Al-Ahzab: 56

Dec 17th, 2014 | By | Category: Artikel, Kajian Ibadah, Kajian Tafsir, Kisah Nabi dan Rasul | Viewed 4,599 views

Hayu batur pada kumpul

Ngahormat ka Gusti Rasul

Supaya urang dikabul

Sagala anu diusul

Urang maraca solawat

Ka Nabi nuhun syafaat

Supaya urang salamet

Di dunya sareng aherat

(Nazhoman Abah Hasan Mughni)

 

Nabi Muhammad saw. dilahirkan di kota Mekkah pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal Tahun Gajah atau bertepatan dengan tanggal 20 April 571 Masehi. Beliau dilahirkan dalam keadaan yatim yang telah ditinggalkan ayahnya, Abdullah, sejak masih berusia 2 bulan di dalam kandungan dan menjadi piatu karena ditinggal mati ibunya, Siti Aminah, pada usia 6 tahun.

Seumur hidupnya, Nabi Muhammad saw. terus berdakwah menyiarkan ajaran agama Allah kepada seluruh umat manusia. Berbagai aral dan rintangan ia hadapi dengan penuh kesabaran dengan senantiasa mengharap pertolongan Allah swt. Tidak sedikit ancaman, hinaan dan cobaan yang diterima bahkan sampai terluka parah akibat peperangan yang dialaminya hingga nyaris meninggal dunia. Itu semua dilaluinya dengan tanpa amarah dan perasaan balas dendam, melainkan ia selalu bermunajat kepada Tuhannya agar misi yang ia emban—yakni i’lai kalimatillah (menegakkan ajaran agama Allah) di muka bumi—dapat tercapai dengan gemilang. Kegigihan Rasulullah saw. dalam memperjuangkan agama Islam serta beratnya penderitaan yang ia alami diabadikan oleh Allah di dalam al-Qur’an :

لقد جاءكم رسول من أنفسكم عزيز عليه ما عنتم حريص عليكم بالمؤمنين رؤوف رحيم

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu (umat manusia), serta sangat menginginkan (keimanan, keselamatan dan kebaikan) bagi kamu semua, lagi amat belas kasihannya serta penyayang terhadap orang-orang mukmin”. (QS. Al-Taubah: 128).

Muhammad saw. adalah manusia seperti manusia lainnya dalam naluri, fungsi fisik dan kebutuhannya, tetapi bukan dalam sifat-sifat dan keagungannya, karena beliau mendapat bimbingan Tuhan dan kedudukan istimewa di sisi-Nya. Begitu besar perhatiannya kepada umat manusia sehingga ia rela mencelakakan diri demi mengajak mereka beriman kepada Allah (QS. Asy-Syu’ara: 3). Begitu luas rahmat dan kasih sayang yang dibawanya sehingga menyentuh manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan makhluk tak bernyawa.

Atas dasar sifat-sifat yang agung dan menyeluruh itu, Allah swt. menjadikan beliau sebagai teladan yang baik bagi seluruh umat manusia :

لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجو الله واليوم الآخر وذكر الله كثيرا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat dan ridha) Allah dan (ganjaran amal kebaikan) pada hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah(berdzikir)”. (QS. Al-Ahzab: 21).

Disadari sepenuhnya bahwa uraian tentang Nabi Muhammad saw. amat panjang, yang dapat diperoleh secara tersurat maupun tersirat di dalam al-Qur’an, hadis, riwayat-riwayat dan pandangan para pakar. Hal penting bagi para pengikutnya selain turut-patuh ajaran yang ia bawa dan menjadikannya sebagai teladan, adalah selalu menghormati, mengingat serta melafalkan namanya setiap saat selama nafas masih berhembus bagai seorang yang merindukan kekasihnya.

A. Lafaz dan Terjemah QS. Al-Ahzab Ayat 56

إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما

Artinya :

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. (QS. AL-Ahzab: 56).

B. Tafsir Mufradat

يصلون             :  Mereka semua bershalawat.

Al-shalah mempunyai pengertian asal doa. Namun, apabila ia disandingkan dengan nama Allah maka berarti pemberian rahmat-Nya. Apabila ia diucapkan oleh malaikat, ia merupakan permohonan ampun kepada Allah. Dan bila al-shalah dilakukan oleh manusia, berarti bentuk pemujaan dan permohonan (doa) kepada Allah. Jadi, bila manusia melakukan al-shalah (ibadah shalat) artinya manusia sedang memuja dan memohon kepada Allah untuk dirinya. Begitupula jika manusia mengucapkan al-shalah (shalawat atas Nabi saw.) berarti ia sedang memuji Nabi saw. serta memohon kepada Allah agar selalu dilimpahkan rahmat-Nya kepada Nabi dan seluruh umatnya.

وسلموا            :  Berilah salam penghormatan.

Al-salam artinya selamat, tidak ada yang cacat, damai, aman, pasrah, dan homat.

C. Penjelasan QS. Al-Ahzab Ayat 56

Ayat ini merupakan bagian terakhir dari ayat-ayat yang diturunkan pada saat Nabi Muhammad saw. menikahi Zainab binti Jahsy yang berkaitan tentang ketetapan hijab (penghalang/penutup/tirai) antara seorang wanita dengan orang lain yang bukan muhrimnya, yakni tepatnya di pagi hari perkawinan keduanya pada bulan Dzulqa’dah tahun 5 Hijriyah. Di dalam sebuah hadis riwayat Imam Ahmad, al-Bukhari, Muslim, Ibnu Jarir, Ibnu Mardawih dan al-Baihaqi dari sahabat Anas ra disebutkan bahwa :

عَنْ اَنَسٍ قَالَ لَماَّ تَزَوَّجَ رَسُولُ اللهِ صَلىَّ الله ُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَيْنَبَ بِنْتِ جَهْشٍ دَعَا اْلقَوْمُ فَطَعِمُوْا ثُمَّ جَلَسُوْا يَـتَحَدَّثـُوْنَ وَإِذَا هُوَ كَاَنـَّهُ يَـتَهَـيَّـأُ لِلْقِياَمِ فَلَمْ يَقُوْمُوْا فَلَمَّا رَاَى ذَلِكَ قَامَ فَلَمَّا قَامَ قَامَ مَنْ قَامَ وَقَعَدَ ثَلاَثـَةُ نَفَرٍ فَجَاءَ النَّبِيُّ صَلىَّ الله ُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيَدْخُلَ فَإِذَا اْلقَوْمُ جُلُوْسٌ ثُمَّ إِنـَّهُمْ قَامُوْا فَانْطَلَقَتُ فَاَخْبَرَتُ النَّبِيَّ صَلىَّ الله ُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنـَّهُمْ قَدْ اِنْطَلِقُوْا فَجَاءَ حَتىَّ دَخَلَ فَذَهَبَتْ اَدْخَلَ فَـاَلْقىَ الْحِجَابَ بَيْنِيْ وَبَيْـنَهُ فَاَنْزَلَ الله ُ : يا أيها الذين آمنوا لا تدخلوا بيوت النبي  الآية . — رواه البخاري ومسلم وأحمد وابن جرير وابن مردويه والبيهقي

Diriwayatkan dari Anas ra. Ia berkata, “Ketika Rasulullah saw. menikahi Zainab binti Jahsy, beliau mengundang orang banyak lalu mereka makan dan duduk berbincang-bincang. Dan tiba-tiba beliau beliau bersiap-siap untuk bangun tetapi mereka tidak bangun juga. Karena melihat demikian maka beliau pun bangun dan tatkala mereka bangun, sebagian orang ikut bangun sedang tiga diantaranya tetap duduk. Kemudian Nabi saw. bersiap-siap untuk masuk dan ternyata orang-orang tersebut duduk kembali. (Tak lama) kemudian mereka pun bangkit, maka aku pergi untuk memberitahukan kepada Nabi saw. bahwa mereka telah bubar. Maka datanglah beliau untuk masuk kembali dan aku pun ikut masuk, lalu beliau menurunkan tabir antara aku dan beliau. Lalu Allah menurunkan wahyunya, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian masuk ke dalam rumah-rumah Nabi … (surat al-Ahzab ayat 53 – 56)”. (HR. al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Ibnu Jarir, Ibnu Mardawih dan al-Baihaqi).

Terlepas dari persoalan hijab, ayat-ayat ini menjelaskan tentang adab kesopanan yang harus dilakukan seorang hamba Allah kepada kekasih-Nya, Muhammad saw. Pada ayat 53 dijelaskan bahwa pada saat hari pernikahan Nabi saw. dengan Zainab, beliau mengundang orang-orang dan mereka menunggu-nunggu waktu makan karena masakannya belum siap. Setelah mereka semua makan kemudian mereka saling berbincang-bincang padahal Nabi berharap agar mereka semua segera pulang. Hal seperti ini sangat dibenci oleh Allah swt. karena telah membuat nabi-Nya merasa terganggu. Terlebih mengawini istri-istri beliau setelah beliau meninggal dunia.

Dari ayat 53 ini, setidaknya kita dapat mempraktikkan ajaran tersebut, yakni apabila kita bertamu dan diundang dalam suatu pesta, baik pesta pernikahan ataupun lainnya, maka janganlah kita mengharap-harap dan menunggu-nunggu hidangan yang belum siap atau belum dipersilahkan oleh tuan rumah. Begitupula bila setelah makan, kita dilarang berlama-lama apalagi sambil bercakap-cakap yang tidak perlu. Itu semua dapat mengganggu ketentraman sang tuan rumah, sekalipun rumah yang didiami itu bukan rumah Nabi saw., sebab berlama-lama duduk itu tercela di mana saja dan terhina bagi siapa saja. Rasulullah bersabda di dalam hadis yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah dan Ibnu ‘Abbas ra.:

حَسْـبُكَ فِى الثـُّقَلاَءِ اَنَّ الله َ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَحْـتَمِلُهُمْ

“Cukuplah bagimu mengenai orang-orang yang berlama-lama duduk (bertamu) itu, bahwa Allah tidak membiarkan (menyukai perbuatan) mereka itu”.

Ayat 54 surat al-Ahzab merupakan penegasan Allah terhadap ayat sebelumnya, bahwa apapun yang diperbuat manusia sekalipun niat tersembunyi yang ada di dalam hati tetap Allah mengetahui segalanya. Ayat 55 adalah pengecualian tentang hijab antara istri-istri Nabi saw. yang membolehkan sebagian kerabat dan wanita-wanita mukminat menemui mereka tanpa ada penghalang/tabir.

Ayat selanjutnya adalah pokok pembahasan tulisan ini, yakni pengajaran kepada umat manusia bahwa Allah dan para malaikat-Nya yang senantiasa memberikan penghormatan kepada Nabi Muhammad saw. Dalam ayat ini, setelah dijelaskan adab terhadap Rasulullah serta perintah hijab, al-Quran mengajarkan tentang kedudukan hamba dan nabi Allah di antara seluruh penghuni langit dimana Allah selalu memujinya dan bershalawat untuknya di hadapan seluruh malaikat sehingga para malaikat pun ikut bershalawat setiap saat tanpa henti hingga akhir zaman kelak.

Di dalam al-Quran ditemukan bahwa para nabi sebelum Muhammad saw. telah diseru oleh Allah dengan nama-nama mereka, seperti ya Adamya Mûsaya ‘Îsa, dan lain sebagainya. Tetapi terhadap Muhammad, Allah sering memanggilnya dengan panggilan kemuliaan, seperti ya ayyuhan nabiya ayyuhar rasûl, atau memanggilnya dengan panggilan mesra, seperti ya ayyuhal mudatstsirya ayyuhal muzzammil. Kalaupun ada ayat yang menyebut namanya langsung, nama tersebut dibarengi dengan gelar kehormatan dan kemuliaan, seperti di dalam surat Ali ‘Imran ayat 144 :

وما محمد إلا رسول قد خلت من قبله الرسل

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul…”. (QS. Ali ‘Imran: 144).

Dan di dalam surat al-Fath ayat 29 :

محمد رسول الله والذين معه أشداء على الكفار رحماء بينهم

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir…”. (QS. Al-Fath: 29).

 

1. Makna Shalawat

Di dalam Bahasa Arab, lafaz  صَلَوَات  merupakan bentuk jamak dari  صَلاَة   yang mempunyai asal kata  صَلىَّ    –    يُصَلىِّ  yang berarti berdoa atau memohon. Dalam perkembangannya, penggunaan kata-kata tersebut semakin bermacam-macam sehingga artinya pun menjadi beraneka ragam, diantaranya ia menjadi nama salah satu bentuk ibadah umat Islam, yaitu shalat, karena shalat merupakan salah satu bentuk apresiasi-aplikatif penyembahan dan permohonan seorang hamba kepada Tuhannya.

Selain itu, ia juga dapat berarti pujian, rahmat dan ampunan untuk Nabi Muhammad saw., tergantung siapa yang melakukannya. Perbuatan seperti ini, masyarakat Indonesia menamakannya shalawat. Tidak diketahui kapan dan siapa yang pertama kali menyebutnya demikian, sebab al-Quran menamai perbuatan untuk Nabi saw. tersebut dengan shalat, bukan dengan shalawat. Tetapi yang jelas, ini dapat memudahkan kita dalam membedakan pelaksanaan ibadah shalat dan pengucapan shalat (baca: shalawat) atas Rasulullah saw.

Ibn Mandzur menjelaskan di dalam bukunya Lisan al-‘Arab, shalawat atas nabi itu dapat berasal dari tiga macam, yaitu Allah, malaikat dan manusia—sebagaimana dikemukakan ayat 56 surat al-Ahzab. Shalawat yang berasal dari Allah artinya Dia memberikan rahmat serta kasih sayang-Nya kepada Nabi Muhammad saw. Apabila para malaikat mengucapkan shalawat, artinya mereka memohonkan ampun untuk rasul kepada Allah. Sedangkan bila ia diucapkan oleh manusia, itu merupakan permohonan manusia kepada Allah agar mencurahkan karunia rahmat-Nya kepada Rasulullah beserta alam seisinya.

2. Tata Cara Bershalawat Atas Nabi Muhammad saw.

Al-Quran surat al-Ahzab ayat 56 memerintahkan kepada orang-orang yang beriman agar senantiasa bershalawat atas Nabi Muhammad saw. Akan tetapi pengucapan shalawat itu harus sesuai dengan aturan-aturan yang telah diajarkan Allah dan nabi-Nya, sebab ia merupakan bentuk doa sekaligus penghormatan kepada Rasulullah saw.

a)      Larangan Membaca Shalawat al-Batra’

Rasulullah saw. bersabda di dalam salah satu hadisnya :

لاَ تَصِلُوْا عَلَيَّ الصَّلاَةَ اْلبَتْرَاءَ فَقَالُوْا وَمَا الصَّلاَةُ اْلبَتْرَاءُ قَالَ تَقُوْلُوْنَ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَتَمْسُكُوْنَ بَلْ قُوْلُوْا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ  — الحديث

“Janganlah kalian bershalawat untukku dengan shalawat al-batra’ (terputus/tanggung)”. Para sahabat bertanya, “Apakah shalawat al-batra’ itu?” Nabi saw. menjawab, “Yaitu kalian mengucapkan allahumma shalli ‘ala muhammad (ya Allah, berikanlah rahmat-Mu kepada Nabi Muhammad) lalu kalian diam, tetapi ucapkanlah allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala ali muhammad (ya Allah, berikanlah rahmat-Mu kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad)”. (Al-Hadis).

Hadis ini mengajarkan agar manusia jangan menjadi orang yang pelit serta tanggung dalam bershalawat, yakni hanya cukup mengucapkan allahumma shalli ‘ala muhammad, akan tetapi harus lengkap membawa keluarga Nabi saw., yaitu dengan mengucapkan allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala ali muhammad. Ini dikarenakan bahwa nabi adalah bagian dari keluarga, begitu pula keluarganya merupakan bagian dari diri nabi. Sebagaimana Rasulullah menjelaskan :

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ الله ُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَللَّهُمَّ إِنَّهُمْ مِنيِّ وَأناَ مِنْهُمْ فَاجْعَلْ صَلاَتَكَ وَرَحْمَتَكَ وَمَغْفِرَتَكَ وَرِضْوَانَكَ عَلَيَّ وَعَلَيْهِمْ — الحديث

Rasulullah saw. berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya mereka (keluarga nabi) adalah bagian dari diriku dan diriku juga bagian dari mereka, maka jadikanlah keberkahan, rahmat, ampunan serta keridhaan-Mu untukku dan mereka (keluargaku)”. (Al-Hadis).

Berdasarkan hadis di atas, para ulama menetapkan bahwa sedikit-dikitnya bacaan shalawat adalah :

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ

b)      Bilangan Bacaan Shalawat

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan al-Tirmizi, bahwasanya pernah suatu ketika seseorang datang kepada Nabi saw., lalu ia berkata :

إِنِّى أكْـثَرُ الصَّلاةِ عَلَيْكَ فَكَمْ أَجْعَلُ لَكَ مِنْ صَلاَتِى قَالَ مَا شِئْتَ قَالَ الرُّبْعُ قَالَ مَا شِئْتَ وَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قَالَ النِّصْفُ قَالَ مَا شِئْتَ وَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قَالَ الثُّلـُثَيْنِ قَالَ مَا شِئْتَ وَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قَالَ أجْعَلُ لَكَ صَلاَتِى كُـلُّهَا قَالَ إِذَا تَكْفِى هَمُّكَ وَيَغْفِرُ لَكَ ذَنْـُبكَ — رواه أحمد والترمذى وغيرهما

“Sesungguhnya aku mampu membaca banyak shalawat bagimu, maka berapa lamakah aku dapat membaca shalawatku untukmu?” Nabi saw. menjawab, “Terserah kamu”. Ia berkata, “Apakah seperempat hari?” Beliau menjawab, “Terserah kamu. Apabila kamu dapat menambahnya maka itu lebih baik bagimu”.  Ia berkata, “Apakah setengah hari?” Beliau menjawab, “Terserah kamu. Apabila kamu dapat menambahnya maka itu lebih baik bagimu”. Ia berkata, “Apakah dua pertiga hari?” Beliau menjawab, “Terserah kamu. Apabila kamu dapat menambahnya maka itu lebih baik bagimu”. Ia berkata, “Aku akan membaca shalawatku bagimu sepanjang hari”. Nabi berkata, “Kalau itu mencukupi bagimu maka bertekadlah melaksanakannya dan semoga Allah mengampuni dosa-dosamu”. (HR. Ahmad, al-Tirmizi dan selainnya).

Hadis ini menjelaskan kepada kita bahwa tidak ada batasan seorang mukmin membaca shalawat untuk nabinya, bahkan semakin banyak dan sering ia bershalawat maka akan semakin banyak pula kebaikan yang didapat. Tidak ada yang dapat membalas itu semua kecuali Allah swt. dengan menganugerahkan berbagai kebaikan dan ampunan sepanjang hidup orang yang mau selalu membaca shalawat untuk utusan Allah yang mulia.

c)      Berbagai Macam Jenis Shalawat

Rasulullah saw. sepanjang hidupnya selalu mendoakan umatnya agar selalu mendapat hidayah, rahmat dan ampunan dari Allah. Maka sudah sepantasnya bila Allah memerintahkan kepada umatnya yang beriman agar senantiasa mendoakan beliau supaya selalu mendapat rahmat Allah sehingga tampaklah kemuliannya di seluruh alam semesta ini. Allah swt. berfirman di dalam al-Qur’an :

يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما

“Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. (QS. Al-Ahzab: 56).

Berikut ini adalah beberapa jenis shalawat yang diajarkan Rasulullah—selain yang telah dikemukakan di atas—yang harus selalu diamalkan oleh seluruh umatnya yang beriman.

Pertama, Diriwayatkan dari Imam al-Bukhari di dalam shahih-nya melalui jalur sanad Ka’ab bin ‘Ujrah, ia berkata :

قِيْلَ ياَ رَسُوْلَ اللهِ اَماَّ السَّلاَمُ عَلَيْكَ فَقَدْ عَرَفْناَ فَكَيْفَ الصَّلاَةُ قَالَ قُوْلُوْا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ صَلَّيْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللَّهُمَّ باَرِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ باَرَكْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ  — رواه البخاري

“Katanya Rasulullah ditanya, “Wahai Rasulullah, adapun mengucapkan salam kepadamu kami telah tahu, maka bagaimana cara mengucapkan shalawat?” Nabi menjawab, “Ucapkanlah :

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ صَلَّيْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللَّهُمَّ باَرِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ باَرَكْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

(Ya Allah, berilah rahmat kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berilah keberkahan kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan keberkahan kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.)”. (HR. al-Bukhari).

Kedua, Imam Abu Daud meriwayatkan suatu hadis :

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ الله ُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَرَّهُ أنْ يُكْتاَلَ بِالْمِكْياَلِ اْلأَوْفىَ إِذاَ صَلىَّ عَلَيْناَ أهْلَ اْلبَيْتِ فَلْيَقُلْ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ وَأزْوَاجِهِ اُمَّهَاتِ اْلـمُؤْمِنِيْنَ وَذُرِّيَتِهِ وَأهْلِ بَيْتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ — رواه أبو داود

Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang suka dibayar (mendapat) pahala yang banyak (sempurna) ketika ia bershalawat untuk kami, ahlul bait, maka ucapkanlah :

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ وَأزْوَاجِهِ اُمَّهَاتِ اْلـمُؤْمِنِيْنَ وَذُرِّيَتِهِ وَأهْلِ بَيْتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

(Ya Allah, berilah rahmat kepada Nabi Muhammad, istri-istrinya ibunya kaum mukminin, keturunannya, dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberi rahmat kepada Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia)”. (HR. Abu Daud).

 

3. Keutamaan Bershalawat Atas Nabi Muhammad saw.

Allah swt. mengajak hamba-hamba-Nya untuk bershalawat atas Nabi Muhammad saw. tentu bukan tanpa manfaat dan hikmah, khususnya bagi mereka yang membacanya. Diantara beberapa keutamaan bershalawat adalah :

  • Mendapat syafa‘at al-‘uzma Nabi Muhammad saw. di hari kiamat nanti pada saat kebangkitan di saat seluruh umat manusia berusaha mencari pertolongan demi keselamatan diri mereka. Hal ini sebagaimana dikemukakan Rasulullah saw. di dalam hadisnya :

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صَلىَّ الله ُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنَّهُ قَالَ إِذَا سَمِعْـتُمُ اْلـمُؤَذِّنَ فَقُلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ ثُمَّ صَلُّوْا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلىَّ عَلَيَّ مَرَّةً صَلىَّ الله ُ عَلَيْهِ عَشْرًا ثُمَّ سِلُوا الله َ لِيَ اْلوَسِيْلَةَ فَإِنَّهَا دَرَجَةٌ فِى اْلجَـنَّةِ لاَ تَنْـَبغِى إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ وَاَرْجُوْ اَنْ اَكُوْنَ اَناَ ذَلِكَ اْلعَبْدُ فَمَنْ سَاَلَ الله َ لِيَ الْوَسِيْلَةَ حَلَّتْ عَلَيْهِ شَفَاعَتِى يَوْمَ اْلقِيَامَةِ — رواه مسلم

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar dari Nabi saw. bahwasanya beliau bersabda, “Apabila kalian mendengar muadzdzin sedang adzan maka jawablah seperti apa yang ia katakan kemudian bershalawatlah atasku karena sesungguhnya orang yang bershalawat atasku sekali maka Allah akan bershalawat (merahmati) untuknya sepuluh kali lipat. Lalu memohonlah kepada Allah suatu perantara untukku karena sesungguhnya derajat di surga tidak akan diberikan kecuali kepada seorang hamba dari hamba-hamba Allah. Dan aku berharap supaya aku menjadi hamba tersebut. Maka barangsiapa yang memohon kepada Allah bagiku suatu perantara maka ia akan mendapatkan syafaatku di hari kiamat”. (HR. Muslim).

  • Mendapatkan pahala kebaikan berlipat ganda sebagaimana dijelaskan dalam hadis di atas.
  • Dimudahkan oleh Allah segala urusannya, baik di dunia dan akhirat.

Al-Qur’an surat al-Ahzab ayat 56 memberitakan keagungan dan kemuliaan Nabi Muhammad saw. di antara seluruh makhluk yang ada di ‘arsy, langit, bumi dan alam semesta. Begitu agungnya sehingga Allah yang menciptakannya beserta para malaikat memujinya dan selalu bershalawat untuknya. Oleh karena itu, bila Allah saja membaca shalawat maka manusia, terutama orang-orang yang beriman harus ikut memuji dan bershalawat kepada Nabi Muhammad saw.

Membaca shalawat, selain bernilai ibadah, juga termasuk salah satu cara menghormati dan memuliakan nabi. Namun, membaca shalawat saja tidaklah cukup dan justru tidak akan mendapatkan syafaat beliau jika tidak dibarengi menjadikannya teladan dalam kehidupan, mematuhi segala perintah dan ajarannya, serta meninggalkan segala larangan dan perkara yang dibencinya. Apabila hal itu tidak dilaksanakan, maka bukan syafaat dan surga yang didapat, akan tetapi neraka dan murka Allah sebab ini termasuk perbuatan yang menyakiti Allah dan rasul-Nya. Di dalam al-Qur’an dijelaskan :

إن الذين يؤذون الله ورسوله لعنهم الله في الدنيا والآخرة وأعد لهم عذابا مهينا .  والذين يؤذون المؤمنين والمؤمنات بغير ما اكتسبوا فقد احتملوا بهتانا وإثما مبينا

“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Ny,. Allah akan melaknatnya di dunia dan di akhirat serta menyediakan baginya siksa yang menghinakan. Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata”. (QS. al-Ahzab: 57 – 58).

 

SUMBER REFERENSI :

Ahmad bin ‘Abdul Halim bin Taimiyyah al-Harani, Kutub wa Rasail wa Fatawa Ibn Taimiyyah fi al-‘Aqidah, Juz 1, (Maktabah Ibnu Taymiyyah, tth.).

Ahmad bin Muhammad bin Muhammad bin ‘Ali bin Hajar al-Haitami, al-Shawa‘iq al-Muharriqah, (Beirut, Muassisah al-Risalah, 1997).

Ahmad Musthofa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Jilid 7 dan 8, (Dar al-Fikr, 1973).

Ahmad Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, (Jakarta: Jayamurni, 1970).

Hasan Mughni, Syair-Syair dan Nadoman (Basa Sunda) Ngamuat Pelajaran Agama, (Kuningan, tth.).

Husin al-Habsyi, Kamu al-Kautsar, (Surabaya: PP. Assegaff dan PP. Alawy, 1977).

Rus’an, Lintasan Sejarah Islam di Zaman Rasulullah saw., (Semarang: Wicaksana, 1981).


*) Ditulis oleh Miftahul Khaer dalam rangka menyambut dan memperingati kelahiran Nabi Muhammad saw.

Baca Juga

Tags: ,